,مليسيا دان اسلام بوکن ميليک اورڠ ڤوليتيک
, مک ڤرجواڠن اݢام تتڤ دڤرجواڠکن اوليه اومت اسلام دري بيدڠ يڠ لاءين
سام اد كامي منڠ اتاو كامي ماتي

PERJALAN HAJI AKI


Showing posts with label NUSANTARAku. Show all posts
Showing posts with label NUSANTARAku. Show all posts

Saturday, 5 October 2013

MELAYU - KEMBALILAH KE PEJUANGAN ASAL.


5 Tokoh Indonesia yang di Abadikan di Belanda


Jika perjuangan penuh dengan keikhlasan, kemana pergi pun di kenang orang. Perjuangan untuk membebaskan Negara dari genggaman penjajahan amat perit bagi se orang pejuang. Tapi hasilnya di nikmati oleh orang yang terkemudian. Harga kemerdekaan amatlah mahal. Bagaimana pula tanggung jawab kita yang terkemudian ini untuk memelihara dan mengisi kemerdekaan? Adakah DARAH PEJUANG KEMERDEKAAN hanya akan di bayar dengan DEMOKRASI yang terlalu adil dengan "ANAK TINGGALAN PENJAJAH" sedangkan ZALIM kepada PRIBUMI dan sudah tiada dua dan tiga Negaranya? Sesekali betanyalah pada diri sendirir.....MERDEKAKAH NEGARA ini jika yang mendatang MENJADI TUANnya dengan mengaut segala hasil Negara dengan berselindung di sebalik TEMBOK DEMOKRASI?

Lihatlah....Aku menumpang bangga dengan mereka PAHLAWAN SEJATI........

Tak hanya di negeri sendiri saja nama-nama berikut di kenang. Nun jauh dei Barat sana, sederet nama tokoh, pahlawan dan pejuang tanah air Indonesia, turut pula diabadikan namanya  oleh bekas negeri penjajah, Belanda. Kesemua tokoh tersebut, dipandang pemerintah Belanda, memiliki andil yang besar dalam perjuangan Indonesia dan berkontribusi besar pula terhadap negeri Belanda. Tak heran, pengaruh tokoh Indonesia di bawah ini, diapresiasi dan dihargai dengan menjadikan nama tokoh ini menjadi nama-nama jalan di Belanda. Berikut kami tampilkan 5 Tokoh Indonesia yang namanya “Diabadikan” di Belanda: 

1. Mohammad Hattastraat



Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Bandar udara internasional Jakarta menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasanya sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia.

Selain di kenang di Indonesia, nama Mohammad Hatta juga turut diabadikan menjadi nama sebuah ruas jalan di kawasan Haarlem (Mohammed Hattastraat), Belanda. Nama Mohammed Hattastraat terpampang di papan nama jalan di kawasan perumahan Zuiderpolder yang dibangun pada tahun 1987. Pemberian nama ini ditetapkan oleh pejabat Walikota R.H Claudius dengan alasan bahwa Hatta merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia yang pernah menimba ilmu di Belanda serta merupakan aktivis Indonesia.

2. R.A Kartinistraat   



Raden Adjeng Kartini  atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh  Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Karenanya Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai pejuang hak perempuan baik di Indonesia maupun di negeri Belanda. Masyarakat di Belanda umumnya mengenal Kartini sebagai wanita pejuang hak perempuan yang berasal dari Jawa. Tak heran jika nama R.A Kartinistraat dapat ditemukan di kota Utrech yang terletak dikawasan hunian yang ditinggali oleh kalangan menengah. Selain di kota Utrech, nama Kartini juga terdapat dibeberapa kota lainnya seperti; di kota Venlo, Amsterdam  dan  Haarlem.

3. Sjahrirstraat   



Sutan Syahrir adalah seorang politikus dan perdana menteri pertama Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947. Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1948. Ia meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Sebelum menjadi Perdana Menteri Indonesia, dulu ia pernah menimba ilmu di Fakultas Hukum Universitas Amsterdam dan kemudian pindah kuliah ke Leiden School Of Indology. 

Pergaulan Sjahrir saat itu sangat luas terutama di kalangan cendikiawan dan aktivis politik Leiden. Hal ini, mencuatkan nama Syahrir hingga namanya ikut diabadikan sebagai nama jalan di Kota Leiden (Sjahrirstraat), tempat dimana dirinya menimba ilmu di Belanda.

4. Irawan Soejonostraat   



Irawan Soejono adalah seorang mahasiswa Indonesia yang diakui oleh Belanda sebagai pahlawan negara tersebut karena perjuangannya melawan Jerman Nazi di bawah Hitler. Untuk mengenang jasa-jasanya, namanya diabadikan sebagai nama salah satu ruas jalan di  kota Amsterdam (Irawan Soejonostraat). Pada masa Perang Dunia II, Irwan Soejono adalah anggota Perhimpunan Indonesia di Belanda. Ayahnya adalah Adipati Ario Soejono, orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Belanda. 

Irawan Soejono gugur ditembak sebagai pejuang perlawanan bawah tanah Belanda melawan Jerman. Di kalangan pejuang-pejuang perlawanan Belanda Irawan dikenal dengan nama Henk van de Bevrijding. Ia ditugasi menangani alat-alat percetakan bawah tanah dan radio untuk menangkap siaran-siaran Sekutu. Selain itu, ia juga menjadi anggota kelompok bersenjata perjuangan perlawanan Indonesia.   

Irawan Soejono gugur di Leiden pada bulan Januari 1945. Saat itu ia sedang mengangkut sebuah mesin stensil yang digunakan untuk penerbitan perlawanan di bawah tanah. Hal ini diketahui oleh pihak tentara Jerman yang kemudian berusaha menangkapnya. Irawan berusaha meloloskan diri, namun ia ditembak hingga tewas. Setelah gugurnya Irawan Soejono, kelompok bersenjata di bawah tanah Indonesia ini diberi nama Grup Irawan Soejono.

5. Munirstraat   



Nama lengkapnya Munir Said Thalib. Namun banyak orang mengenalnya dengan nama Munir. Dia adalah pria keturunan Arab yang juga seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial. Saat menjabat Dewan Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. 

Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim.


AMUKANMELAYU - Pejuang sejati akan di hormati oleh kawan dan lawan.....

Thursday, 13 June 2013

JIKA SUARAM MINTA "BRITISH" MENYERANG MALAYSIA, KITA JUGA RASANYA DAH BOLEH UNTUK SAUDARA KITA DARI SEBERANG "MENGAJAR" YAHUDI IMEGRAN INI



APAKAH CINA MALAYSIA SUDAH BERSEDIA UNTUK BEHADAPAN DENGAN "PEJUANG" INDONESIA?

Mantan Ketua Polis Negara, Tan Sri Musa Hassan
Mantan Ketua Polis Negara Tan Sri Musa Hassan telah membuat suatu kenyataan yang menjelaskan apa yang saya maksudkan dengan Malaysia berhadapan ancaman gerila bandar dalam  masa yang tidak dijangkakan.

Saya telah menulis mengenainya lebih seminggu lalu (lihat di bawah) secara umum, tetapi Tan Sri Musa telah menuding jari dengan tepat kepada bahaya ini dan menepati apa yang ada dalam fikiran saya bila beliau berkata:

"Lambakan pekerja asing tanpa izin (PATI) di negara ini perlu dipandang serius kerana golongan itu dibimbangi berpotensi menjadi "Askar Tersedia" seandainya berlaku konflik membabitkan negara atau rakyat  mereka dengan negara Malaysia. Jumlah mereka adalah jauh lebih ramai berbanding tentera dan polis di negara ini." (Utusan Malaysia 19 Mac)

Memandang kepada "gelora" sejarah Indonesia maka tidak terjamin Indonesia akan selamanya mempunyai kepimpinan dengan kematangankewarasan dan kemantapan seperti Pak Harto (Almarhom) dan Pak Susilo Bambang Yudhoyono, sebaliknnya Malaysia pernah menghadapi tukar gantinya kepimpinan negara itu yang kurang sensitif, lebih mementingkan keegoan dari kematangan, kewarasan dan mencampuri urusan politik Malaysia, malah mengeksport reformasi Indonesia  ke tanah air kita.

Mereka hanya dapat mengadakan persahabatan akrab dengan pemimpin-pemimpin Malaysia yang sealiran jiwa dan semangat dengan  mereka. Maka itu mereka telah menyokong kepimpinan Malaysia seumpama itu tanpa menghormati tatasusila diplomatik dan peradaban persahabatan dalam semangat ASEAN. Hingga kini mereka masih mengharapkan ejen-ejen politik akan berjaya di Malaysia.
DIDERA: Beginalah keadaan muka Suryani selepas mendakwa didera majikannya di Taman Sejahtera, Sungai Petani kelmarin. Pix: Kosmo!
Suryani Abdullah, 21,DIDERA KAFIRUN CINA: Beginalah keadaan muka Suryani selepas mendakwa didera majikannya di Taman Sejahtera, Sungai Petani kelmarin. Pix: Kosmo!


Orang Cina Malaysia seharusnya sedar bila Indonesia melancarkan Konfrantasi dalam tahun 60an, maka Malaysia bernasib baik tidak berada di bawah kepimpinan nasionalis Melayu yang percaya kepada kekuatan Melayu berada dengan penggabungan Indonesia sebaliknya, kepimpinan  Tunku Abdul Rahman, Tun Razak, Tun Ismail, Tun Tan Siew Sin, Tun Sambathan dalam gabungan UMNO, MCA dan MIC (Perikatan) melihat masa depan negara dan bangsa berada dalam kekuatan masyarakat multi ethnic dan dalam sistem demokrasi dan ekonomi bebas.

Pemimpin-pemimpin Pas dan Parti Sosialis Rakyat Malaysia tidak dapat melihat kekuatan diri sendiri dan kerajaan terpaksa menahan beberapa orang pemimpin mereka di bawah ISA kerana menjadi pengkhianat kepada negara. Di antara mereka itu sekarang telahpun "murtad" dari pegangan ideologi politik semata-mata kerana diberikan kedudukan, wang, kuasa dan kerana mahu membalas dendam.

Jika kita melihat rehtoric mereka dahulu dibandingkan dengan perlakuan mereka sekarang, nampak jelas  mereka tidak lagi mempunyai harga diri dan tidak bermaruah. Penghormatan rakyat kepada mereka dahulu  kerana pegangan mereka kepada prinsip perjuangan
A. Vealu dan isterinya S. Poongavanam mencederkanWin Faidaa, 26,


Kepecayaan Pas keselamatan Melayu di Malaysia bergantung kepada penyatuan dengan Melayu Indonesia tanpa mempedulikan nasib kaum-kaum lain, terutama orang Cina yang menjadi matlamat keganasan rakyat Indonesia dan penindasan kerajaan Indonesia di zaman Soekarno.

Sejarah Pas adalah sejarah kepimpinan yang tidak pernah mempunyai kebanggaan dengan negara sendiri, mengambil ideologi asing untuk dipaksakan ke atas rakyat negara ini. Pemimpin Pas Haji Hadi Awang terpukau dengan revolusi Islam di Iran dan  mahu membawa revolusi  Iran ke Malaysia.

Sangat bodohlah orang Cina yang berfikir bahawa Pas boleh terpisah dengan ideologi Islam yang  dogmatik, keras dan melampau dengan parti itu berkerjasama dengan DAP atau pemimpin-pemimpin liberal Melayu lainnya.
mother fucker
KURANG AJAR - Jika Melayu masih berlembut inilah akibatnya

Orang Cina Malaysia wajib sedar bahawa reformasi yang diimport dari Indonesia oleh Ketua Pembangkang, Anwar Ibrahim untuk penentangannya terhadap Tun Dr. Mahathir adalah tidak terpisah dari penghayatan kepada cita-cita Konfrantasi  Indonesia yang pernah dilancarkan terhadap Malaysia tetapi jika mereka mahu menggadaikan nasib masa depan mereka kepada penguasaan suatu bangsa lain yang mempunnyai sejarah sendiri terhadap ketidakadilan dan kekejaman kepada orang Cina maka terserahlah kepada mereka.

Hal  ini tidak lagi akan berlaku atas nama Konfrantasi  tetapi atas nama Globalisasi.

Saya lebih dahulu mengucapkan takzaih kepada masyarkat Cina Malaysia.

Ini adalah tulisan saya yang terdahulu:

MALAYSIA HADAPI ANCAMAN GERILA BANDAR
(Bukan Malaysia Zam.....tapi KAFIRUN Cina)
Setelah penyelesaian tuntutan Fipilina ke atas Sabah, kerajaan Malaysia menampakkan keyakinan penuh tidak akan timbul kebangkitan untuk mengambil semula Sabah dengan tindakan bersenjata.

Ancaman yang bersifat pencolekan dan pencerobohan dari Filipina yang berlaku dari semasa ke semasa lebih diketahui sebagai tindakan lanun yang tiada jelas hubungannya dengan politik.
GERILA BANDAR: PANDANGAN BEKAS KPN PATI "ASKAR TERSEDIA" TEPAT SEKALI  

Ketua Pengarang Utusan Melayu, Tan Sri
Melan Abdullah dalam sifatnya sebagai
Pengerusi Barisan Bertindak Rakyat
Malaysia berucap dalam satu rapat umum
semasa konfrantasi Indonesia
Bagaimanapun, pencerobohan Tentera Diraja Kesultanan Sulu diLahad Datu yang setakat ini  mengorbankan lapan anggota keselamatan Malaysia oleh penembak tepat (Sharpshooter) atas alasan mahu Sabah dikembalikan kepada  mereka, mencetuskan beberapa persoalan tentang kedudukan keselamatan negara sekarang dan juga taraf keupayaan pengawal negara; polis dan tentera, terutama bahagian Perisikan Tentera dan Unit Cawangan Khas Polis Di Raja Malaysia.
Anggapan bahawa pencerobohan itu datang hanya  dari tentera asing  tanpa kerjasama rakyat tempatan atau pemastautin tetap dari Selatan Filipina tidaklah  bagitu tepat  oleh  kerana menurut laporan akhbar, tentera Kesultanan Sulu itu telah berada di beberapa kawasan di Sabah sejak empat bulan lalu. Tentunya mereka telah mengatur perancangan serangan yang  berstrategik dan taktik yang rapi.
Bahawa tentera kesultanan ini dapat bertahan dan dapat melepaskan tembakan tepat ke sasaran, membuktikan bahawa mereka cukup terlatih dan   mempunyai alat pemantauan keselamatan yang cukup  canggih.

Bahawa Pasukan Keselamatan menaburkan risalah menerusi helicopter supaya mereka menyerah diri menampakan betapa kita masih menggunakan strategi zaman penjajah yang sudah outdated.
Peristiwa  ini juga membuka mata kita terhadap kemungkinan besar akan boleh berlaku gerakan gerila bandar (urban guerilla) menggantikan perjuangan  pengganas komunis di hutan rimba dengan adanya pelbagai anasir di dalam kemasukan jutaan pendatang asing yang dimudahkan  oleh perasuah di pintu masuk negara kita. Tentunya di antara mereka terdapat perisek, pengintip dan sebagainya selain dari penjenayah yang lebih mudah untuk ditangani.
Keadaan sekarang adalah berbeza dengan sebelum berlaku konfrantasi Indonesia di tahun enam puluhan  di mana ketika itu jumlah rakyat asing yang berada di negara ini terutama dari Indonesia dan Filipina adalah kecil .Pergerakan mereka lebih mudah  lagi  sekarang dengan  adanya pemimpin-pemimpin politik Malaysia yang menjadi alat kuasa asing.
Peristiwa Lahad Datu tentunya telah menggemparkan dunia, kerana Malaysia dan Singapura di ketahui di Asia sebagai dua buah negara yang mempunyai taraf keselamatan yang tinggi. Seperti terkejutnya kita dengan peristiwa pengembomam di London pada 7 June 2005, maka demikianlah dunia gempar dengan letupan pencerobohan berdarah di Lahad Datu  Sabah.
Malaysia diketahui mempunyai kecekapan dalam memantau gerakan militan Islam seperti gerakan Jemaah Islamiah Nusantara yang hendak menegakkan Darul Islam di Nusantara, tetapi tentunya tidak terfikir bahawa Tentera Kesultanan Sulu boleh mendatangkan bahaya lebih besar kepada negara.
Satu demi satu wira kita telah gugur dengan tembakan tepat dan tentunya mereka ini telah melalui taraf latihan yang kental dan bukan sebarangan dan tidak  boleh ditolak kaitannya dengan Gerakan Jemaah Islamiah Nusantara sekalipun kemungkinannya adalah tipis.
Dan jika benar ada rakyat negara ini yang terlibat dalam membantu penyusupan, perancangan dan serangan dalaman maka mereka mestilah menghadapi balasan dan hukuman yang setimpal dengan dosa mereka sebagai pembelot dan penderhaka negara.
Apakah persitwa ini juga merupakan akibat dari penghapusan ISA yang walaupun pihak perisek telah mengetahui kegiatan  anasir musuh dari dalam lebih awal,  tetapi tidak dapat bertindak tanpa bukti untuk dihadapkan ke mahkamah -

Sunday, 17 February 2013

BERPETUALANG KE RIAU



Rumah Melayu Bugis



Jalan menuju ke Pelabuhan Tanjung Batu

Zaman kanak-kanak ialah zaman yang manis walaupun ada juga pahitnya. Makan minum ditanggung, masih hijau tentang perihal kehidupan, ingatannya hanya bermain sahaja. Dari itu mereka perlu diawasi dan dididik agar tidak membuat perkara yang bukan-bukan.
Begitu juga saya, suatu masa dahulu saya juga termasuk dalam gulungan kanak-kanak. Banyak kenangan pahit dan manis yang masih segar dalam ingatan saya. Antara yang pahit ialah ketika mengejar kawan tak dapat lalu terlanggar bucu tembok. Akibatnya koyak dahi saya, terpaksa ke hospital untuk dijahit. Parutnya kekal sampai sekarang. Yang manisnya ialah mengingat kembali akan apa-apa yang saya lakukan pada masa itu. Kenangan manis yang menimbulkan keinginan saya untuk mencari rumah yang seperti rumah nenek saya dahulu di Lorong 21, Geylang, Singapura.

Gerai-gerai tepian jalan di Tanjung Batu ketika Supermoon mengambang

Dari bentuk yang asal, rumah nenek saya telah diperbesarkan dan ditambah lagi empat pintu. Tiga darinya disewakan dan yang satu lagi menjadi rumah bagi keluarga saya. Ianya terletak di tepi salah satu cabang dari Sungai Kallang. Dari belakang rumah, saya boleh ke rumah nenek melalui titian berpagar yang menyambung rumah keluarga saya dengan rumah nenek. Titian ini juga berfungsi sebagai bilek air kami, disinilah kami mandi. Ada satu lagi titian berpagar dari belakang rumah menghala ke tengah sungai di mana pada penghujungnya terdapat satu pondok. Pondok inilah tempat kami buang air samaada besar atau kecil. Kalau buang air besar ketika air surut ketepek bunyinya dan ketika air pasang plung bunyinya. Bunyi yang bergema dengan jelas di dalam pondok itu.

Sungai-sungai di Singapura bukanlah sungai yang sejati dalam erti kata sebenarnya. Ianya bukan dari air yang mengalir dari sumber-sumber mata air yang terdapat di gunung-ganang atau bukit-bakau. Malah ia saolah-olah rekahan di bumi yang bermula dari tepian pantai menusuk masuk ke dalam. Mungkin suatu masa dahulu ia sememangnya sungai yang sejati yang mana kini sudah mati dan tinggal hanya bekasnya sahaja. Oleh itu air sungai di belakang rumah akan naik dan turun mengikut pasang dan surutnya air laut. Jika air laut pasang besar, maka seluruh kawasan halaman kampung akan dipenuhi air. Ini menjadikan halaman kampung saolah-olah kolam renang yang besar. Ramai anak-anak kampung akan mandi, bermain dan berenang melainkan saya kerana dilarang ibu. Saya hanya duduk ditangga berandah rumah nenek melihat kawan-kawan yang lain mandi dan bermain dengan riangnya. Sesekali ada juga saya berjalan-jalan mengharung air.

Sewaktu air pasang penuh, selain dari ikan-ikan berenang kedalam ada juga najis-najis yang hanyut ke halaman kampung dan sesudah surut terdapat ada yang tertinggal. Ini menyebabkan anak-anak kampung ketika leka bermain, kadangkala terpijak najis ini (ini kenyataan yang saya tahu benar). Pernah suatu ketika dahulu seorang lelaki barat masuk kampung dan saat ia melihat air pasang penuh langsung mengucapkan, “Oh! High tide.” Ucapan ini telah menjadi bahan ketawa anak-anak muda kampung. Orang putih pun tahu, “Oh! Air tahi.”

Tidak terdapat banyak rumah seperti rumah nenek saya yang masih berdiri tegak, indah tersergam pada masa kini. Banyak yang sudah usang, dirubuhkan dan diganti dengan rumah baru yang tiada sama ciri-cirinya. Saya ingin mengambil kesempatan yang masih ada ketika ini untuk megambil gambar-gambar rumah yang ciri-cirinya sama dengan rumah nenek saya untuk disimpan sebagai kenangan dan juga sebagai rujukan. Banyak tempat sudah saya ziarahi di Johor-Riau, tetapi belum seluruh pelusuk, banyak yang tiada. Setakat ini saya hanya dapat menemui satu di Pontian, Johor, Malaysia. Di Kepulauan Riau pula setelah ke Singkep, Selayar, Lingga, Karimun dan Moro tiada saya temukan. Alhamdulillah, akhirnya dapat juga saya ketemu dengan dua buah rumah di Sungai Sebesi (Sungai Besi), Pulau Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia. Inilah rumah orang-orang melayu suku bugis suatu ketika dahulu. Ciri-ciri penuhnya ialah:

1) Rumah panggung yang bertiang kayu,
2) Terdapat kayu melintang yang dipasakkan pada tiang-tiang itu dibahagian atas dekat dengan lantai,
3) Ia mempunyai berandah,
4) Tingkapnya labuh sampai ke lantai dan banyak jumlahnya.

Serkat, Pontian, Johor, Malaysia. Berandah di kiri terlindung. Ciri-ciri yang sangat serupa dengan rumah nenek saya termasuk papan dinding yang bertindih dan ketinggian tiang-tiangnya. Kayu yang melintang antara tiang-tiang itu kerap saya terantuk jika leka ketika keluar masuk kolong rumah. Anjung yang kelihatan melintang ialah tambahan yang baru bukan dari asal

Sungai Besi, Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia

Sungai Besi, Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia

Tiada berandah. Sungai Besi, Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia

Rumah usang. Selat Belia, Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia


Moro – Salah Satu Daerah di Kepulauan Riau



Tanjung Balai

Di dalam usaha saya untuk mencari rumah melayu bugis, saya telah ke Moro, Karimun, salah satu kawasan di daerah Kepulauan Riau, Indonesia. Dari Singapura saya telah menuju ke Tanjung Balai dan bermalam satu hari di sana.
Terdapat banyak hotel di Tanjung Balai untuk dibuat pilihan. Esoknya pada pukul sepuluh saya check-out dan berjalan-jalan di pekan sambil menanyakan feri ke Moro. Pukul dua petang barulah saya berangkat ke Moro. Jeti untuk ke Moro berasingan dengan jeti (pelabuhan) besar di mana terdapat banyak feri-feri ke tempat-tempat yang jauh seperti Batam, Tanjung Pinang juga Malaysia dan Singapura. Feri ke Moro yang saya naiki kecil sahaja, boleh muat kira-kira dua puluhan penumpang. Ia digerakkan oleh empat enjin yang berkuasa tinggi. Dalam masa satu jam saja saya telah pun sampai ke Moro tempat
asalisteri pertama datuk saya dari sebelah emak. (tambahan: 24 Jun 2012)  Datuk saya berasal dari Tanjung Batu dan nenek saya (isteri keduanya) dari Tanjung Balai.

Pekan Moro

Pekan Moro lebih kecil lagi dari pekan Tanjung Balai dan tidak terdapat banyak rumah-rumah penginapan di sini. Hotel Wisata Fajar Moro yang terletak dibelakang Masjid Al Aqsho tidak jauh dari pelabuhan besar Moro menjadi pilihan saya. Jangkanya saya hendak bermalam satu malam sahaja, tetapi oleh kerana terdapat banyak helang-helang di sini maka saya lanjutkan sampai dua malam. Sememangnya saya berminat untuk memetik gambar helang jika ada kesempatan.
Dalam perbualan saya dengan penduduk-penduduk tempatan, ternyata di Moro juga tiada rumah seperti yang saya cari. Satu-satunya yang tinggal telahpun diganti baru yang tidak sama.

Pelabuhan Moro

Kehampaan itu sedikit sebanyak diubati dengan hadhirnya helang-helang yang saya kira boleh tahan juga jumlahnya tetapi tidak sebanyak jumlah yang saya lihat di Daik, Pulau Lingga. Helang-helang di sini sama jenisnya dengan helang-helang di Daik. Istilah melayunya tidak saya ketahui tetapi di dalam bahasa Inggeris ia disebut Red-backed Sea Eagle atau lebih dikenali sebagai Brahminy Kite. Ada satu lagi jenis helang yang sesekali dapat saya lihat di sini yang mana tidak saya lihat di Daik tetapi saya melihatnya di Pulau Perhentian, Terengganu, Malaysia. Ianya berbadan putih, sayapnya di belakang (atas) berwarna hitam dan di bawah berwarna hitam dan putih. Istilah melayunya kalau tidak silap saya ialah Helang Laut atau Helang Hamba Siput (Helang Siput). Istilah Inggerisnya ialah White-bellied Sea Eagle.

Rumah di tepian pantai, Moro

Antara sebab terdapat banyak helang di sini ialah sebuah perusahaan menangkap dan mengekspot ikan. Dalam usaha mereka untuk membungkus ada ikan-ikan yang terjatuh ke laut atau ada yang tidak menjadi pilihan lalu di buang. Ikan-ikan ini lah yang menjadi salah satu sumber makanan kepada burung-burung helang selain dari menangkapnya sendiri. Pemandangan yang sangat menarik melihat helang-helang menjunam dan menyambar ikan yang berada di permukaan air.
Pada hari ketiga di Moro saya berangkat pulang ke Tanjung Balai pada pukul 11.30 pagi waktu tempatan. Perjalanan kali ini memakan masa lebih dari satu jam kerana ada beberapa tempat yang disinggah sebelum sampai ke Tanjung Balai. Juga ferinya lebih besar dan ianya menggunakan enjin disel. Saya bermalam lagi di Tanjung Balai. Pada pagi keesokannya sebelum pulang ke Singapura saya sempat menziarahi Air Terjun Pongkar, Pantai Pongkar dan Pantai Palawan.

Air Terjun Pongkar, Karimun

Pantai Pongkar, Karimun

Pantai Palawan, Karimun

Setelah ziarah check-out dari hotel pada pukul 12.00 tengahari. Minum teh diwarung bersebelahan hotel sebelum ke pelabuhan. Hari itu hari jumaat, penjual lontong ke masjid, jadi cuma minum sahaja. Tepat pukol 1.00 tengahari, bertolak ke pelabuhan untuk menaiki feri pulang ke Singapura.

Burung Helang Terlepas Ikan

Masjid Al Aqsho Moro. Kelihatan hotel di belakang

Dari Kulaijaya ke Daik



Gunung Daik - Salah satu puncaknya patah dipanah petir

Saya tahu mengenai perkataan Daik sejak saya masih kecil lagi apabila ia di ungkapkan dari bibir ibu saudara saya dan kemudian dengan pantun lama yang sesekali saya dengar atau terbaca. Pantun yang tidak asing lagi iaitu;

Pulau Pandan jauh ke tengah,
Gunung Daik bercabang tiga;
Hancur badan dikandung tanah,
Budi yang baik dikenang juga.


Rumah yang seperti rumah nenek saya. Ciri-cirinya sama cuma bentuknya lain. Berandah di kiri terlindung

Kira-kira sebulan yang lalu saya telah terbaca cerita mengenai Daik, maka timbullah keinginan saya untuk ke sana. Daik letaknya di Pulau Lingga, berdekatan dengan Pulau Singkep dan Pulau Selayar. Ia termasuk dalam kawasan pemerintahan daerah Kepulauan Riau. Tidak banyak keterangan yang saya dapat dari internet mengenai Daik dan sekitarannya tetapi cukup memadai sebagai panduan bagi saya ke sana. Selain dari itu, saya juga ingin mengambil gambar akan rumah-rumah yang seperti rumah nenek saya dahulu di Kampung Hidayah, Lorong 21, Geylang, Singapura. Ciri-cirinya ialah 1) Rumah panggung yang tiangnya kayu, 2) Tiang-tiangnya dikuatkan dengan dipasakkan kayu melintang di bahagian atas dekat dengan lantai rumah, 3) Ia mempunyai berandah, 4) Tingkapnya labuh sampai ke lantai. Setakat ini saya hanya menemui satu atau dua rumah di daerah Pontian, Johor. Mungkin banyak yang telah usang lalu dirubuhkan dan diganti baru yang tidak sama ciri-cirinya.

Ciri-ciri yang sama seperti rumah nenek saya

Feri ke Daik boleh didapati di pekan Tanjung Pinang di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Perjalanan yang memakan masa lebih kurang empat atau lima jam. Saya telah memilih untuk ke Batam dan menaiki pesawat ke Dabo di Pulau Singkep dengan perjalanan yang memakan waktu hanya satu jam sahaja. Sayangnya pekhidmatan itu telah tiada lagi. Jadi terpaksa saya pergi ke Tanjung Pinang untuk mendapatkan feri ke Daik. Akan tetapi, alhamdulillah, telah pun ada perkhidmatan feri dari Sekupang, Batam ke Tanjung Buton, Pulau Lingga yang mana ia singgah di Jago (jagoh) di Pulau Singkep.

Dari Sekupang selepas tengahari saya berangkat ke Jago dan tiba di sana pada waktu petang. Setibanya di Jago saya teruskan perjalanan saya ke Dabo dengan menaiki salah satu kenderaan yang banyak tersedia menunggu dan menginap satu malam di sana. Saya tidak sempat untuk merayau-rayau di Dabo kerana saya hanya bermalam saja. Pada keesokannya, selepas mengambil gambar di pekan Dabo, pada pukol 9.30 pagi saya bertolak lagi ke Jago dengan menaiki ojek. Tujuan saya pada hari ini ialah Pulau Selayar yang berdekatan dengan Pulau Singkep tetapi jauh sedikit dari Pulau Lingga dengan menaiki pompong (perahu penambang). Kurang dari sepuluh minit saya telah pun tiba di jeti Desa Penuba, Pulau Selayar.
aku melihat diriku sendiri
kasih sayang
Anak-anak di Pulau Selayar, yang di atas memegang gasing buatan sendiri.


Mess di Penuba, Pulau Selayar

Hanya terdapat satu sahaja tempat penginapan di Penuba yang di panggil Mess. Saya di beritahu kemudian bahawa ada satu lagi Mess yang baru akan tetapi tidak pula saya pergi meninjau Mess yang baru itu. Dua malam saya di Pulau Selayar. Masa yang saya habiskan dengan mengelilingi pulau itu berjalan kaki dan apabila sudah keletihan, naik ojek balik ke Mess. Rumah seperti rumah nenek saya tiada di sini. Pada sebelah pagi, hari ketiga saya di Penuba, saya meneruskan perjalanan ke Tanjung Buton di Pulau Lingga dengan menaiki perahu laju dari Jago. Perjalanan dari Jago ke Tanjung Buton memakan masa setegah jam. Dari jeti Tanjung Buton saya menaiki ojek ke pekan Daik dan mendapatkan tempat penginapan. Waktu tengahari hingga ke petang saya habiskan meninjau kawasan berdekatan dengan berjalan kaki. Puncak Gunung Daik, semenjak saya melihatnya dari Penuba senantiasa ditutupi awan.

Salah satu rumah di desa Tanjung Dua, Pulau Selayar

Jadi tiada peluang untuk memetik gambar puncaknya. Rumah yang saya ingin ketemu juga tiada. Rupa-rupanya rumah seperti itu sudah tiada lagi di Singkep, Selayar dan Lingga. Banyak juga pendatang dari daerah lain di Indonesia. Kebanyakkan tingkap rumah-rumah telah berubah. Bukan lagi seperti tingkap rumah-rumah melayu tetapi seperti tingkap-tingkap yang terdapat di kapal-kapal orang-orang barat dahulu, ianya dibuka dengan menolak ke atas sedikit sahaja lalu di tongkatkan.
Pada keesokannya saya menaiki ojek untuk menziarah bekas tapak Istana Damnah, mandi di sungai berdekatan, melawat muzium yang ada di sana, pergi ke Pantai Pasir Panjang dan Air Terjun Resun. Perjalanan kami tersekat-sekat kerana harus berhenti disebabkan hujan. Gunung Daik masih malu lagi, puncaknya masih ditutupi awan. Hanya pada pagi hari keberangkatan

Rumah-rumah tepi sungai di Daik dengan Gunung Daik kelihatan

saya pulang barulah saya berkesempatan untuk mengambil gambar puncaknya yang tidak dilindung awan buat seketika.
Pada pukul tujuh pagi (waktu tempatan) saya telah berada di jeti Tanjung Buton untuk menaiki feri ke Sekupang dan seterusnya pulang ke rumah dan selamat sampai di rumah pada pukul sembilan malam.
Lain hulu lain parang, lain dahulu lain sekarang akan tetapi adanya dahulu adanya sekarang.

Catatan:
Feri ke Tanjung Pinang di Pulau Bintan dan Batam
Dari Johor, Malaysia
Stulang Laut Ferry Terminal (atau Johor Baru International Ferry Terminal)
Pasir Gudang Ferry Terminal
Dari Singapura

Pantai Pasir Panjang, Pulau Lingga
Harbour Front Ferry Terminal
Tanah Merah Ferry Terminal


Duit Belanja : Pastikan bawa wang secukupnya kerana tiada ATM di Pulau Lingga dan Pulau Selayar. Hanya satu sahaja ATM yang terdapat di Dabo, Pulau Singkep, itupun tidak diketahui samaada boleh mengunnakan kad dari bank asing (ini saya tidak periksa). Ojek atau kenderaan dari Jago ke Dabo sekitar 30 atau 35 ribu satu perjalanan. Ojek dari Tanjung Buton ke Daik sekitar 12 ribu. Feri dari Sekupang ke Jago 180 ribu dan feri dari Tanjung Buton ke Sekupang 195 ribu.
Penginapan : Penginapan murah sekitar 60 ribu dengan bilek airnya di luar. Yang lebih baik lagi ada di Daik dan Dabo. Mess

Air Terjun Resun bahagian bawah, 

Pulau Lingga yang di Penuba mempunyai bilek air di dalam dan harganya cuma 50 ribu. Di Pulau Lingga dikenakan pajak (cukai) sebanyak 10% ke atas bilek dan juga makan. Saya rasa penduduk kampung sedia menumpangkan untuk bermalam dengan bayaran yang munasabah. Ini boleh dijadikan sebagai  pendapatan sampingan kepada penduduk-penduduk di sana. Cuma pastikan kebersihannya. Ada yang permandiannya cuma dikepung kelilingnya saja dan itu pun dindingnya tidak tinggi. Konsep Homestay sudah ada hanya tetapi belum ada yang rasmi. 

Makan : Makan di warung termasuk kopi atau teh sekitar 18 hingga 23 ribu. Ini tergantung kepada apa yang dimakan dan banyak atau sedikit lauknya. Saya hanya makan satu atau dua lauk sahaja. Kalau makan lontong atau gado-gado minta jangan dibubuh mee melainkan anda suka lontong atau gado-gado dengan mee.

AMUKANMELAYU - indahnya Nusantaraku.......air di cincang takkan putus......

Sunday, 6 January 2013

HAKIM MENJATUHKAN HUKUM, LOWYER ADALAH KERJAYA, ADAKAH MANGSA KAN TERBELA?

Kisah Hakim yang Adil 


TIDAK BANGGA dengan Pemerintah Indonesia, tapi BANGGA menjadi orang INDONESIA.... MERDEKA !!!!

Kisah Hakim yang Adil 

09 February 2012 
 
Kemarin di beberapa grup BBM yang saya ikuti ada postingan yang saya yakin juga sudah banyak beredar di grup lain yang saya tidak ikuti, bagi anda yang punya BB pasti sudah membacanya dan mungkin ikut juga mengomentarinya, bagi yang belum , berikut ini saya coba tulis lagi secara lengkap. ini isi nya :
Kisah nyata, kasus nenek curi singkong th 2011 di Kab Prabumulih Lampung.


Di ruang sidang pengadilan, Hakim Marzuki duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong . Nenek itu berdalih bahwa anak lelakinya sakit, cucunya lapar. Namun manajer PT Andalasa Kertas (Bakri Grup) tetap pada tuntutannya agar menjadi contoh bagi warga lainnya.


Hakim Marzuki menghela nafas, dia memutus diluar tuntutan jaksa PU. “Maafkan saya” katanya sambil memandang nenek itu.”Saya tidak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum. jadi anda harus tetap di hukum, saya mendenda anda 1 juta rupiah dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun seperti tuntutan jaksa PU.”


Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Sementara Hakim Marzuki mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil dan memasukan uang 1 juta rupiah ke topi toganya, serta berkata kepada hadirin. ” saya atas nama pengadilan juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruangan ini sebesar 50 ribu rupiah, sebab menetap di kota ini dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya, saudara panitera, tolong kumpulkan dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”


Sampai palu diketuk dan hakim marzuki meninggalkan ruang sidang, nenek itu pun pergi dengan mengantongi uang 3,5 juta rupiah, termasuk uang Rp 50 ribu yang diberikan oleh manajer PT Andalas Kertas yang tersipu malu karena telah menuntutnya. Sungguh sayang kisah ini luput dari pers.”
Kalau membaca kisah itu, maka akan terasa sebuah pesan moral yang menggugah kita, betapa hukum dan keadilan hanya tajam ke bawah dan rakyat kecil seperti nenek tadi yang jadi korban, dan betapa arif dan bijaksannya hakim marzuki.
Tetapi kalau dibaca lebih teliti lagi, saya jadi ragu, apakah ini hoax, apakah kejadian ini benar benar ada terjadi di kab Prabumulih Lampung atau hanya cerita karangan dengan memakai seting seolah olah terjadi di Prabumulih. Keraguan saya itu terjadi karena
- pertama karena di sini sumber ‘berita’ atau kisah ini tidak jelas, siapa yang pertama kali membradcast, atau dari sumber mana, tidak jelas .
- Kemudian juga yang kedua, kesannya menyudutkan satu entitas (PT Andalas Kerta yang disebut sebagai grup Bakrie) bisa saja cerita ini dibuat sebagai sebuah persaingan usaha yang dibuat oleh kompetitor.
- Kemudian juga dicerita itu disebutkan mengenai ‘topi toga’ hakim marzuki, yang setahu saya di Indonesia, hakim di Pengadilan Negri tidak bertopi toga.
Tapi di luar itu semua, mungkin inilah bukti kerinduan masyarakat terhadap dunia hukum yang lebih adil dan juga kerinduan terhadap sosok  hakim yang juga adil dan tetap mempunyai nurani.

EDISI MALAYSIA - Undang undang Menjadi Zalim Jika Di POLITIKAN 

Sangat mengharukan, seorang hakim bernama Marzuki di Mahkamah Indonesia berasa sebak dengan penerangan pesalah seorang nenek tua yang mengaku salah mencuri ubi kayu.

Di ruang mahkamah pengadilan, seorang hakim duduk termenung menyemak pertuduhan kepada seorang nenek yang dituduh mencuri ubi kayu. Nenek itu merayu bahawa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun pengurus ladang tuan punya ladang ubi tersebut tetap dengan tuntutannya supaya menjadi iktibar kepada orang lain.

 

Hakim menghela nafas dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.

”Saya tidak dapat membuat pengecualian undang-undang, undang-undang tetap undang-undang, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta (lebih kurang RM350) dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2.5 tahun, seperti tuntutan undang-undang”.

Nenek itu tertunduk lesu. Namun tiba-tiba hakim menbuka topi hakimnya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan wang Rp 1 juta ke topinya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang mahkamah.

‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada setiap orang yang hadir di ruang mahkamah ini, sebesar Rp 50 ribu (lebih kurang RM17), kerana menetap di bandar ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sehingga terpaksa mencuri untuk memberi makan cucunya.

“Saudara pendaftar, tolong kumpulkan denda dalam topi saya ini lalu berikan semuanya kepada yang tertuduh”

sebelum tukul diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan wang sebanyak Rp 3.5 juta dan sebahagian telah dibayar kepada mahkamah untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah gembira dan terharu dengan membawa baki wang termasuk wang Rp 50 ribu yang dibayar oleh pengurus ladang yang mendakwanya.

Kisah ini sungguh menarik dan boleh di share untuk menjadi contoh kepada penegak undang-undang di Malaysia agar bekerja menggunakan hati nurani dan mencontohi hakim Marzuki yang berhati mulia ini.


AMUKANMELAYU - Keadilan bukan datang dengan POLITIK, keadilan datang bersama iman dan takwa.......

Tuesday, 18 December 2012

Tgk.H.Hasan Kruengkalee - HILANGNYA TIADA GANTI


Ulama Aceh Sepanjang Masa

 

Penulis -  Teuku Zulkhairi





 Tgk.H.Hasan Kruengkalee, Ulama Aceh Sepanjang Masa

Tgk.H.Hasan Kruengkale merupakan nama seorang ulama besar
di Aceh. Beliau lahir pada tanggal 15 Rajab tahun 1303 H
 (18 April 1886) dalam pengungsian di Meunasah Ketembu,
 kemukiman Sangeue, kabupaten Pidie setelah tiga belas tahun
peperangan dahsyat berkecamuk di Aceh antara prajurit kerajaan
 beserta rakyat Aceh dengan serdadu-serdadu agresor Belanda
(A.Hasyimy, 1988). Tgk.H.Hasan Kruengkale dilahirkan disana
 sewaktu orang tuanya pindah dari Kutaraja(Banda Aceh sekarang)
dalam rangka mempertahankan ide-idenya untuk memperjuangkan
 Islam dari cengkeraman kolonialisme penjajahan kafir Belanda.

Ketika dalam pengasingan tersebut, beliau belajar pengetahuan dasar
agama langsung dari kedua orangtuanya sambil berpindah-pindah
dari satu tempat ke tempat lain di daerah pengungsian. Dan setelah
 mempunyai pengetahuan dasar tentang agama Islam yang memadai
, bahasa Arab, sejarah Islam dan lain-lain, pada tahun 1906 M,
Tgk H.Hasan Kruengkalee yang telah menjadi remaja berangkat
ke Yan, Keudah - Malaysia untuk memperdalam ilmu pengetahuan
yang telah beliau pelajari sebelumnya. Beliau dikirim kesana oleh
ayahnya untuk melanjutkan pendidikannya di Dayah Yan yang pada
 waktu itu dipimpin oleh Tgk.H.Muhammad Arsyad, seorang ulama
 besar yang berasal dari Kerajaan Aceh Darussalam. Tgk.H.Muhammad
Arsyad adalah teman pengajian ayahnya dulu sewaktu di Lamnyong.
 Selain itu, keberangkatan beliau ke Keudah juga atas dorongan
 Teuku Raja Keumala dan Tgk Syaikh Ibrahim Lambhuk. Disana
beliau memperdalam ilmu pengetahuan selama beberapa tahun.

Dayah Yan di Keudah sudah sejak lama menjadi pusat pendidikan
 Islam di Semenanjung tanah Melayu. Para sultan Kerajaan Aceh
Darusssalam mengirim ulama-ulama besar kesana untuk membangun  
dayah sebagai lembaga pendidikan utama untuk daerah-daerah Tanah
Seberang. Setelah menamatkan studinya di Dayah Yan, Tgk H.Hasan
Kruengkalee yang telah mempunyai pengetahuan agama dan bahasa
 arab yang cukup, atas persetujuan gurunya pada tahun 1910 berangkat
 ke tanah suci dalam rangka menunaikan Ibadah H. serta untuk melanjutkan
 pendidikan yang lebih tinggi pada pusat pendidikan Islam di Masjidil
Haram Makkah. Disana beliau belajar selama lima tahun, dan yang
menjadi gurunya merupakan ulama-ulama besar yang menjadi masyaikh
 (para guru besar) dalam Masjidil Haram dan sangat terkenal di kota
 Mekkah. Diantara guru-guru beliau tersebut adalah Syaikh Said
 Al-Yamani Umar bin Fadil, Syaikh Khalifah, Syaikh Said Abi Bakar
Ad-Dimyaty dan Syaikh Yusuf An-Nabhany dan sebagainya.

Setelah menempuh pendidikan sekitar enam tahun di Mekkah, Tgk H.
Hasan Kruengkalee pulang ke tanah air. Sekembali beliau tersebut
pada tahun 1916 beliau langsung mengambil alih pimpinan Dayah
Kruengkalee yang sejak peperangan dengan Belanda tidak terurus lagi.
 Dengan semangat baru yang dihasilkan dari pendidikan selama b
ertahun-tahun di Mekkah dan didorong oleh jiwa mudanya Tgk.H.M.
Hasan Kruengkalee membangun kembali Dayah tersebut. Dalam
waktu singkat, Dayah Kruengkalee telah berubah menjadi pusat
pendidikan agama Islam terbesar di Aceh sejajar dengan nama-nama
besar lainnya seperti; Dayah Tanoh Abee, Dayah Lambirah, Dayah
Rumpet, Dayah Jeureula, Dayah Indrapuri, Dayah Pante Geulima,
 Dayah Tiro dan Dayah Samalanga,(Shabri A, dkk, Biografi 
Ulama-Ulama Aceh Abad XX, (Banda Aceh: Dinas Pendidikan
Prop.NAD, 2007), hal. 6).

Dalam perkembangan kemudian, Tgk H.Hasan Kruengkalee melalui
Dayah yang dikelolanya telah berhasil mencetak banyak kader-kader
 da’i, pendidik, ulama dan pemimpin umat yang sangat berjasa bagi
rakyat Aceh, baik sebagai pembimbing mereka dengan nilai-nilai agama,
 maupun sebagai pimpinan masyarakat atau sebagai komando
dalam jihad fisabilillah melawan agressor Belanda ketika itu. Sebagai
lembaga pendidikan Islam, dayah Kruengkalee ini pada dasarny
a lebih banyak berperan dibandingkan dengan lembaga pendidikan
 formal lainnya seperti sekolah yang didirikan oleh pemerintah
Belanda pada waktu itu. Sekolah pada waktu itu tidak sanggup
 mengemban tugas untuk menampung semua lapisan masyarakat,
karena ketentuan yang digariskan penjajah Belanda yang membatasi
 kesempatan bersekolah bagi masyarakat luas atas dasar kepentingan
 penjajah Belanda.


Menurut berbagai catatan sejarah, sebagian besar ulama-ulama
 besar generasi tua di Aceh saat ini tercatat pernah menimba ilmu
 kepada beliau. Mereka tersebar di seantaro Aceh menjadi
mercusuar dalam lapangan khazanah keilmuan Islam. Diantara
ulama-ulama dari murid-murid Tgk H. Hasan Krueng Kalee, yang
 cukup terkenal di daerahnya masih masing antara lain dapat disebutkan:
 Tgk Ahmad Pante, ulama dan imam masjid Baiturrahman Banda
Aceh, Tgk Hasan Keubok, ulama dan Qadhi XXVI mukim
di Aceh Besar, Tgk M. Saleh Lambhouk, ulama dan imam masjid
 Raya Baiturrahman Banda Aceh, Tgk Abdul Jalil Bayu, ulama dan
pemimpin dayah Al-Huda Aceh Utara, Tgk Sulaiaman Lhoksukon,
ulama dan pendiri dayah Lhoksukon, Aceh utara, Tgk M. Yusuf
Peureulak, ulama dan ketua majlis ulama Aceh Timur, Tgk Mahmud
Simpang Ulim, ulama dan pendiri dayah Simpang Ulim, Aceh Timur,
Tgk H. Muda Waly Labuhan H., ulama dan pendiri dayah Darussalam,
 Labuhan Haji Aceh Selatan, Tgk Syeh Mud Blang Pidie, ulama
 dan pendiri dayah Blang Pidie Aceh Selatan, Syeh Shihabuddin,
 ulama dan pendiri dayah Darussalam Medan, Sumatera Utara
, Kolonel Nurdin, bekas Bupati Aceh Timur, yaitu anak angkat
 beliau sendiri, Tgk Ishaq Lambaro Kaphee, ulama dan pendiri
dayah Ulee Titie(Fauziah, 1988). Murid-murid beliau tersebut
pada umumnya mengikuti jejak gurunya, menjadi ulama yang
membuka dayah di tempat mereka masing-masing hampir ke
seluruh pelosok nanggroe Aceh.

Selain itu, disamping memimpin Dayah Kruengkalee dan usahanya
mencetak ulama Aceh pewaris para Nabi, beliau juga termasuk
salah seorang putra Aceh yang ikut aktif dalam perjuangan kemerdekaan
 Indonesia, beliau juga pernah menjadi anggota konstituante Republik
Indonesia dari partai Islam Perti. Tgk H.Hasan Kruengkalee juga
pernah mengeluarkan fatwa tentang seruan jihad fi sabilillah untuk
melawan Belanda pada tanggal 15 Oktober 1945, dalam rangka
mempertahankan Negara Republik Indonesia yang ditangani oleh
 beberapa ulama Aceh lainnya, diantaranya oleh Tgk H.Hasan Krueng
 Kalee, Daud Beureueh, Tgk Ja’far Lamjabat dan Tgk H.Ahmad
Hasballah Indrapuri, keempat ulama besar Aceh tersebut mengeluarkan
fatwa bahwa berperang mempertahankan kemerdekaan Republik
 Indonesia adalah perang sabil dan kalau mati hukumnya mati syahid.
 (Prof. A. Hasjmy, Para Pejuang Kemerdekaan yang Mendukung
 Pancasila dan Memusuhi Komunisme, hal. 448).

Himbauan jihad diatas, telah menggerakkan masyarakat tampil ke
medan perjuangan di tanah Aceh untuk merebut kemerdekaan dan
mempertahankannya. Dengan adanya fatwa tersebut diatas, rakyat
Aceh telah berjuang selama tahun-tahun dengan revolusi fisik,
sehinnga tanah Aceh terbebas dari penjajahan Belanda. Mereka
umumnya tergabung dibawah berbagai wadah organisasi perjuangan,
 misalnya Pusa, pemuda Pusa, kasyafatul Islam, Muhammaddiyah,
Pemuda Muhammaddiyah, Perti, Permindo (Pergerakan Angkatan
Muda Islam Indonesia), maupun organisasi-organisasi Islam lainnya.
Para pemuda yang telah dibina iman dan semangat jihadnya dalam
madrasah-madrasah dan dayah bersama-sama rakyat Aceh lainnya
 ikut berjuang mempertahankan proklamasi kemerdekaan.

Pada masa itu pula beliau mempersiapkan alat-alat serba mungkin,
 untuk menghadapi pemberontakan yang terjadi di beberapa tempat
 diantaranya pemberontakan Bayu di Lhokseumawe tahun 1944
di Lhokseumawe, yang dipimpin oleh salah seorang murid beliau
yaitu Tgk Abdul Jalil Bayu dan penyerbuan Blang Bintang untuk
melawan Jepang yang menjelang Indonesia merdeka, yang menjadi
pimpinannya adalah beliau sendiri. Semua pergerakan yang terjadi
baik pada masa penjajahan Belanda maupun penjajahan Jepang
 terutama pemberontakan yang dipimpin oleh murid-murid beliau
adalah atas anjuran beliau sendiri.

Tgk H.Hasan Kruengkalee juga sangat kokoh dalam memegang prinsip
 yang diajarkan melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis
Nabi Muhammad Saw untuk membina kader pendidikan, ulama
dan pemimpin Islam yang bertugas melaksankan dakwah Islmiyah
dengan hikmah( kebijaksaan), dan pelajaran yang baik serta
berbantah dengan cara yang paling baik. Pada tahun 2007, senin 7 Mai,
bertepatan dengan 19 Rabiul Akhir 1438 H, sebuah forum tingkat tinggi
ulama Aceh menggelar pertemuan kedua di Mesjid Raya Baiturrahman;
pada pertemuan yang menghadirkan ratusan ulama Aceh ini menyimpulkan
 bahwa ada empat ulama Aceh yang telah sampai pada tingkat  
ma’rifatullah. Keempat ulama itu, masing-masing Syaikh Abdurrauf As-Singkili,
 Hamzah Fansuri, Tgk H. Muhammad Hasan Kruengkalee dan
Tgk Syaikh H.Muhammad Waly Al-Khalidy atau yang lebih dikenal
dengan sebutan Tgk H Muda Waly. Hadir dalam pertemuan tersebut
diantaranya adalah: Tgk Jamaluddin Waly, Tgk Natsir Waly, Abu Panton
(Abu Ibrahim Panton), Kadis Syari’at Islam Prof Al Yasa’ Abu Bakar
dan seratusan ulama Aceh lainnya. Pada pertemuan ini, Prof Syahrizal
Abbas dari IAIN Ar-Raniry Banda Aceh bertindak sebagai pemandu acara.

Dengan beberapa catatan diatas, maka Tgk H.Hasan Kruengkalee
dapat di katagorikan sebagai ulama besar di Aceh sepanjang masa,
karena beliau sejak usia muda sudah merintis pendidikan Islam di
Aceh dengan memimpin sebuah lembaga pendidikan islam terbesar
dan termashur di Aceh hingga beliau berpulang ke rahmatullah.
Disamping posisi beliau sebagai seorang ulama besar di Aceh,
saat itu beliau juga dikenal sebagai ulama di Mekkah dengan gelar
Syaikh Hasan Al-Falaqy(berdasarkan pengakuan murid-murid
beliau yang masih hidup). Beliau tidak hanya menguasai ilmu agama,
 akan tetapi beliau juga terampil dengan khazanah keilmuan yang lain
 seperti ilmu falak, sejarah Islam dan sebagainya. Selama di Mekkah,
beliau juga mempelajari ilmu tabib(kedokteran), ilmu handasah(arsitektur).
Menurut Prof A. Hasjmy, Tgk.H.Hasan Kruengkalee sangat eksis
mengadakan pengajian, sebagai juru dakwah, pemberantas bid’ah
dan khurafat dan sebagainya. Itulah sepintas sosok beliau yang pada
tahun lalu Majlis Pendidikan Daerah(MPD) Aceh memberikan beliau
 gelar sebagai tokoh pendidikan Aceh.

Penulis adalah Pengajar di Dayah Terpadu Darul Ihsan
 Tgk.H.Kruengkalee, Darussalam-Aceh Besar dan 
Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. 
Salah seorang penulis Buku Biografi Tgk.Haji Hasan Kruengkalee.

amukanmelayu - ULAMAK penyatuan bangsa.....

DIMANA ANDA? MARUAH ATAU DUIT? KAFIRUN CINA TERLALU KURANG AJAR



ATJEHCYBER | ACEH - Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) Mawardi Husman mengabarkan, investor China akan menyulap situs sejarah di Banda Aceh-Bukit Lamreh (Lamuri), Aceh Besar yang selama ini dikenal sebagai makam para Aulia dan Ulama Besar, menjadi lapangan golf.

"Kita menemukan laporan ditempat itu banyak makam ulama dan aulia. Ini alasan kita mendatangi MPU, supaya persoalan itu ada jalan keluar,"papar Mawardi kepada media online lokal, rakyataceh.com, Rabu (8/8).

Ia menilai, sejarah Aceh semakin pudar, bila dilihat dari masa Kesultanan Iskandar Muda, sejarah Aceh begitu megah dan jaya. "Menghilangkan sejarah sama dengan menghilangkan identitas. Kawasan itu sarat akan sejarah kejayaan Aceh. Ironis, demi seorang investor makam ulama diabaikan begitu saja. Padahal sejarah Aceh harus dinikmati bukan untuk dikhianati,” imbuhnya.

Di Aceh, banyak makam raja, ulama dan aulia sudah dilupakan. Padahal adanya ulama sekarang karena adanya ulama masa lalu. Di kawasan pembangunan lapangan golf yang luasnya lebih kurang 93,4 hektar tersebut, terdapat sejumlah makam ulama besar Aceh seperti Hadzal Gabru, Makam Malik Dinta Leubah, Makam Malik Syamsuddin, Makam Sirajul Muluk.

"Investor sudah melakukan pembayaran ganti rugi lahan berjumlah Rp 14 ribu - Rp 17 ribu per meter. Kita mendesak Pemerintah Aceh segera membebaskan makam di bukit Kuta Leubok, Lamreh Kabupaten Aceh Besar itu,"harapnya.

Sementara Ketua MPU Aceh Drs. Tgk. H. Ghazali Mohd. Syam, meminta Pemerintah Aceh memperhatikan kembali, beberapa makam Ulama di lamreh Aceh Besar tersebut. Sebab, menggugah situs-situs purbakala berarti menyelamatkan makam Ulama. "Kita mengharapkan supaya situs-situs tersebut diperhatikan, jangan sampai hilang begitu saja,”ujarnya.

Sedangkan menurut Sekda Aceh Besar, Zulkifli Ahmad ketika dikonfirmasi via letelpon selular mengaku, pihak investor sudah memberikan panjer kepada masyarakat. "Namun belum semua menerima. Karena investor meminta agar menyelesaikan situs sejarah tersebut terlebih dahulu," ungkapnya.(az/rakyataceh/voa-islam)
 
amukanmelayu - habis maruah NUSANTARA di beli dengan uwang.......

Monday, 10 December 2012

KAFIRUN CINA IMEGRAN MEMANG KEJAM DAN KURANG AJAR.....nyahkan mereka dari NUSANTARA



SAUDARA Kita Amah Indonesia PARAH didera KAFIRUN Cina DAPigs..

Seorang gadis Indonesia tidak menduga kedatangannya ke sini untuk mencari rezeki halal sebagai pembantu rumah berakhir dengan dia mendakwa menjadi mangsa kekejaman majikan berketurunan Cina yang rakus menderanya sejak enam bulan lalu.

Tidak tahan apabila sering dipukul dan dimaki hamun, Suryani Abdullah, 21, dari Jakarta, Indonesia akhirnya mengambil keputusan melarikan diri dari rumah majikannya di Taman Sejahtera di sini pada pukul 12 tengah hari kelmarin.

Menceritakan kejadian itu, Suryani mendakwa, sejak bekerja di rumah majikannya itu, dia terpaksa menanggung azab apabila dikerah untuk bangun seawal pukul 5 pagi untuk melakukan pelbagai kerja rumah sehingga lewat malam.

Dakwanya, selain itu, dia sering diugut untuk dihantar pulang jika enggan menurut perintah.

“Majikan saya selalu arahkan saya bangun awal pagi untuk membuat kerja rumah. Pada malam Jumaat lalu, saya diarah bangun pada pukul 5 pagi untuk melakukan pelbagai kerja sehingga lewat malam.

“Ekoran itu, saya telah terlajak tidur sehingga pukul 7 pagi keesokan harinya akibat terlalu penat.

Majikan yang tidak berpuas hati dengan alasan saya bertindak memukul tangan, badan dan muka dengan benda tumpul hingga bengkak dan sakit,” dakwanya yang masuk ke negara ini melalui agensi pekerja asing.

amukanmelayu - sampai bila nak "KITA" biarkan KAFIRUN Cina ini menyiksa SAUDARA SEISLAM DAN SERUMPUN berterusan begini...... NYAHKAN KAFIRUN CINA dari Nusantara.

Thursday, 22 November 2012

DOA SEORANG IBU......MALIN KUNDANG MENJADI BATU




Hikayat Malin Kundang

 

Dahulu kala di Padang Sumatera Barat tepatnya di Perkampungan Pantai Air Manis ada seorang janda bernama Mande Rubayah. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Malin Kundang. Malin sangat disayang oleh ibunya, karena sejak kecil Malin Kundang sudah ditinggal mati oleh ayahnya.

Malin dan ibunya tinggal di perkampungan nalayan. Ibunya suah tua ia hanya bekerja sebagai penjual kue. Pada suatu hari Malin jatuh sakit. Tubuhnya mendadak panas sekali. Mande Rubayah tentu saja sangat bingung. Tidak pernah Malin jatuh sakit seperti ini. Mande Rubayah berusaha sekuatnya unuk mengabobati Malin dengan mendatangkan tabib.

Nyawa Malin yang hampir melayang itu akhirnya dapat diselamatkan berkat usaha keras ibunya. Setelah sembuh dari sakitnya ia makin disayang. Demikianlah Mande Rubayah sangat menyayangi anaknya. Sebaliknya Malin juga amat sayang kepada ibunya.

Ketika sudah dewasa, Malin berpamitan kepada ibunya untuk pergi merantau. Pada saat itu memang ada kapal besar yang merapat di Pantai Air Manis.

“Bu, ini kesempatan yang baik bagi saya,” kata Malin. “Belum tentu setahun sekali ada kapal besar merapat di pantai ini. Saya berjanji akan merubah nasib kita sehingga kita akan menjadi kaya raya.”

Meski dengan berat hati akhirnya Mande Rubayah mengijinkan anaknya pergi. Malin dibekali dengan nasi berbungkus daun pisang sebanyak tujuh bungkus.

Hari-hari berlalu terasa lambat bagi Mande Rubayah. Setiap pagi dan sore Mande Rubayah memandang ke laut. Ia bertanya-tanya dalam hati, sampai di manakah anaknya kini? Jika ada ombak dan badai besar menghempas ke pantai, dadanya berdebar-debar. Ia mengadahkan kedua tangannya ke aas sembari berdo’a agar anaknya selamat dalam pelayaran. Jika ada kapal yang datang merapat ia selalu menanyakan kabar tentang anaknya. Tetapi semua awak kapal atau nahkoda tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Malin tidak pernah menitipkan barang atau pesan apapun kepada ibunya.

Itulah yang dilakukan Mande Rubayah setiap hari selama bertahun-tahun. Tubuhnya semakin tua dimakan usia. Jika berjalan ia mulai terbungkuk-bungkuk.

Pada suatu hari Mande Rubayah mendapat kabar dari nakhoda yang dulu membawa Malin bahwa sekarang malin telah menikah dengan seorang gadis cantik putri seorang bangsawan kaya raya. Ia turut gembira mendengar kabar itu. Ia selalu berdo’a agar anaknya selamat dan segera kembali menjenguknya.

“Ibu sudah tua Malin, kapan kau pulang...” rintih MANDE RUBAYAH tiap malam.

Namun hingga berbulan – bulan semenjak ia menerima kabar malin belum juga datang menengoknya. Namun ia yakin bahwa pada suatu saat Malin pasti akan kembali.

Harapannya terkabul. Pada suatu hari yang cerah dari kejauhan tampak sebuah kapal yang indah berlayar menuju pantai. Kapal itu megah dan bertingkat – tingkat. Orang kampung mengira kapal itu milik seorang sultan atau seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan gembira.

Ketika kapal itu mulai merapat, tampak sepasang muda mudi berdiri di anjungan. Pakaian mereka berkilauan terkena sinar matahari. Wajah mereka cerah dihiasi senyum. Mereka nampak bahagia karena disambut dengan meriah.

Mande Rubayah ikut berdesakan melihat dan mendekati kapal. Jantungnya berdebar keras. Dia sangat yakin sekali bahwa lelaki muda itu adalah anak kesayangannya si Malin Kundang.

Belum lagi tetua desa sempat menyambut, Ibu Malin terlebih dahulu menghampiri Malin. Ia langsung memeluk malin erat – erat. Seolah takut kehilangan anaknya lagi.

“Malin, anakku,” katanya menahan isak tangis karena gembira.

“Mengapa begitu lamanya kau tidak memberi kabar?”

Malin terpana karena dipeluk wanita tua renta yang berpakaian compang – camping itu. Ia tak percaya bahwa wanita itu adalah ibunya. Seingat Malin, ibunya adalah seorang wanita berbadan tegar yang kuat menggendongnya kemana saja. Sebelum dia sempat berpikir dengan tenang, istrinya yang cantik itu meludah sambil berkata, “Cuih! Wanita buruk inikah ibumu? Mengapa kau membohongi aku?”

lalu dia meludah lagi. “Bukankah dulu kau katakan ibumu adalah seorang bangsawan sederajad dengan kami?”

Mendengar kata – kata istrinya, Malin Kundang mendorong wanita itu hingga terguling ke pasir. Mande Rubayah hampir tidak percaya pada perikau anaknya, ia jatuh terduduk sambil berkata, “Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, nak!”

Malin Kundang tidak menghiraukan perkataan ibunya. Pikirannya kacau karena ucapan istrinya. Seandainya wanita itu benar ibunya, dia tidak akan mengakuinya. Ia malu kepada istrinya. Melihat wanita itu beringsut hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil berkata, “Hai, perempuan tua! Ibuku tidak seperti engkau! Melarat dan dekil!”


Wanita tua itu terkapar di pasir. Orang banyak terpana dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Tak disangka Malin yang dulu disayangi tega berbuat demikian. Mande Rubayah pingsan dan terbaring sendiri. Ketika ia sadar, Pantai Air Manis sudah sepi. Dilaut dilihatnya kapal Malin semakin menjauh. Hatinya perih seperti ditusuk-tusuk. Tangannya ditadahkannya ke langit. Ia kemudian berseru dengan hatinya yang pilu, “Ya, Allah Yang Maha Kuasa, kalau dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang dia benar anakku, Malin Kundang, aku mohon keadilan-Mu, Ya Tuhan ...!”

Tidak lama kemudian cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Hujan tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya. Entah bagaimana awalnya tiba-tiba datanglah badai besar. Menghantam kapal malin kundang. Disusul sambaran petir yang menggelegar. Seketika kapal itu hancur berkeping-keping. Kemudian terhempas ombak hingga ke pantai.

Ketika mathari pagi memancarkan sinarnya, badai telah reda. Di kaki bukit terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu. Itulah kapal Malin Kundang. Tak jauh dari tempat itu nampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia. Konon itulah tubuh Malin Kundang anak durhaka yang kena kutuk ibunya menjadi batu. Disela-sela batu itu berenang-renang ikan teri, ikan belanak dan ikan tengiri. Konon, ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.

Demikianlah sampai sekarang jika ada ombak besar menghantam batu-batu yang mirip kapal dan manusia itu, terdengar bunyi seperti lolongan jeritan manusia. Sungguh memilukan kedengarannya. Kadang-kadang bunyinya seperti orang meratap menyesali diri. “Ampuuuun, Bu ... ! Ampuuuun... Buuuuu ... !” konon itulah suara si Malin Kundang.

Orang yang durhaka kepada orang tuanya terutama kepada ibunya, orang tersebut tidak akan bisa masuk surga kecuali setelah mendapat pengampunan dari ibunya.

 


amukanmelayu - ibu sekarang banyak yang di telan BATU BELAH BATU BERTANGKUP.....rajuk yang tak sudah.......

Tuesday, 30 October 2012

SAUDARAku DI SEBERANG - INI ADALAH JENAYAH KAFIRUN MALAYSIA


KEBIADABAN KAFIRUN MALAYSIA MENJADIKAN SAUDARA KITA Pembantu Rumah Indonesia SEBAGAI BARANG DAGANGAN MEREKA


Polemik terbaru di negara sebelah muncul minggu lalu. Ia berikutan bantahan badan berkait tenaga kerja eksport mereka berkait  sebuah iklan 'Indonesian maids for sale' yang dikeluarkan oleh syarikat milik warganegara Malaysia beragama Hindu, pengikut aliran Sai Baba berdasarkan heading text pada iklan tersebut.
Selasa, 30/10/2012 06:58 WIB

KBRI di Malaysia Ikut Selidiki Informasi dalam Iklan 'TKI on Sale'

Moksa Hutasoit - detikNews
 
Sadis - Ini adalah angkara KAFIRUN Cina Malaysia
Jakarta - KBRI di Malaysia ikut menyelidiki informasi yang tertera dalam iklan 'TKI on Sale'. Bahkan Dubes RI untuk Malaysia, Marsekal Purnawirawan Herman Prayitno, juga sudah menghubungi nomor kontak yang ada dalam iklan itu.

"Pak Dubes sudah kontak," kata Minister Counsellor Pensosbud KBRI Kuala Lumpur, Suryana Sastradiredja, kepada detikcom, Selasa (30/10/2012).

Menurut Suryana, dari tiga nomor yang tertera, hanya satu nomor saja yang bisa dihubungi. Dan orang yang mengangkat nomor itu pun berganti-ganti.

"Macam-macam, logat India dan melayu," jelas Suryana. 

Herman saat itu berpura-pura sebagai orang yang tertarik terhadap TKI. Namun, lanjut Suryana, diduga orang tersebut mengetahui logat Indonesia dan segera menutup telepon.

"Nanti kita telepon balik," kata Suryana menirukan cara orang tersebut mengakhiri pembicaraan dengan Herman.

Tak kehabisan akal, KBRI pun meminta bantuan kepada orang lain yang logatnya berbeda. Kali ini dilayani dengan baik dan meminta agar bisa segera didepositokan uang sebesar 3.500 ringgit.

Suryana berharap, warga Indonesia bisa menahan diri menyikapi persoalan ini. Protes keras terhadap Malaysia sudah dilayangkan. Polisi Malaysia juga diharapkan bisa mengusut tuntas kasus ini.

"Soalnya, bisa saja ini penipuan," tutupnya.

Dari foto yang diambil Migrant Care dari jalanan Chow Kit, Kuala Lumpur, Malaysia, iklan 'TKI on Sale' itu menawarkan jasa pembantu dari Indonesia. Bahkan tarifnya diskon 40 persen.

"Indonesian maids now on Sale. Fast and Easy application. Now your housework and cooking come easy. You can rest and relax. Deposit only RM 3,500 price RM 7,500 nett" tulis iklan tersebut.

Iklan itu tersebar di jalanan kawasan Chow Kit, daerah yang banyak menggunakan jasa TKI di Kuala Lumpur. Iklan disebar dengan cara pembagian kepada individu atau ditempel di sejumlah lokasi.
=====================

Alamat yang Ada di Iklan 'TKI on Sale' Ternyata Tukang Cukur

KBRI di Malaysia ikut menyelidiki informasi yang tertera dalam iklan 'TKI on Sale'. Berdasarkan penelusuran, alamat yang ada di dalam iklan itu ternyata tukang cukur.

Minister Counsellor Pensosbud KBRI Kuala Lumpur, Suryana Sastradiredja, mengatakan pihaknya langsung mengecek berbagai informasi yang ada di dalam selebaran tersebut. Salah satunya dengan mengirim petugas untuk mengecek alamat yang dimaksud.

"Sudah kita datangi alamatnya, tapi ternyata malah tukang cukur," kata Suryana kepada detikcom, Selasa (30/10/2012).

KBRI juga sudah menghubungi nomor kontak yang ada di iklan itu. Dari tiga nomor, hanya satu saja yang bisa dihubungi. "Macam-macam, logat India dan melayu," jelas Suryana.

Suryana berharap, warga Indonesia bisa menahan diri menyikapi persoalan ini. Protes keras terhadap Malaysia sudah dilayangkan. Polisi Malaysia juga diharapkan bisa mengusut tuntas kasus ini.

"Soalnya, bisa saja ini penipuan," tutupnya.

Dari foto yang diambil Migrant Care dari jalanan Chow Kit, Kuala Lumpur, Malaysia, iklan 'TKI on Sale' itu menawarkan jasa pembantu dari Indonesia. Bahkan tarifnya diskon 40 persen.

"Indonesian maids now on Sale. Fast and Easy application. Now your housework and cooking come easy. You can rest and relax. Deposit only RM 3,500 price RM 7,500 nett" tulis iklan tersebut.

Iklan itu tersebar di jalanan kawasan Chow Kit, daerah yang banyak menggunakan jasa TKI di Kuala Lumpur. Iklan disebar dengan cara pembagian kepada individu atau ditempel di sejumlah lokasi.
amukanmelayu - apabila kita susah dan miskin....kita akan di pergunakan semahunya walau pun di negara sendiri......DEOKRASI tidak lagi menjamin KESEJAHTERAAN hidup.  Bersamalah kita NYAHkan mereka dari Nusantara ini....

PENJUAL AMAH INDON, TELAH DITAHAN PIHAK POLIS!!!


Liflet yang banyak terdapat di Chow Kit yang mengiklankan amah-amah Indonesia untuk dijual, telah mendorong pihak berkuasa menahan seorang wanita yang terlibat. Wanita berkenaan merupakan salah seorang pekerja di sebuah agensi pembantu rumah SMART LABOR SERVICES, telah menyebarkan liflet tersebut, sekaligus menyebabkan kemarahan masyarakat Indonesia di Malaysia, dan membuatkan hubungan Malaysia-Indonesia kembali tegang.

Wanita tersebut kini sedang ditahan reman dan akan disiasat serta dihadapkan ke mahkamah di bawah Penal  Code kerana mengancam keselamatan negara. Dan sekiranya tidak terbukti, wanita berkenaan akan dibebaskan dalam tempoh 14 hari.

Jurucakap syarikat berkenaan bagaimanapun menafikan syarikat mereka MENJUAL AMAH, sebaliknya hanya menjual servis atau perkhidmatan. Iklan berkenaan dibuat dengan tujuan untuk menarik perhatian semata-mata.

Kontroversi berhubung iklan tersebut bermula pada minggu lepas apabila Anis Hidayah, Pengarah Eksekutif NGO Migrant Care menemui liflet berkenaan disebarkan secara terbuka.

Tulisan pada liflet tersebut berbunyi, "INDONESIAN MAIDS NOW ON SALE!!! FAST & EASY APPLICATION!! NOW YOUR HOUSEWORK AND COOKING COME EASY. YOU CAN REST AND RELAX. DEPOSIT ONLY RM3,500! PRICE RM7,500 NETT."

Anis telah mengambil gambar liflet berkenaan dan menyebarkannya menerusi TWITTER. Dalam tempoh 24 jam, iklan berkenaan telah mencetuskan kontroversi di Indonesia. Parlimen dan media Indonesia seperti biasa, terus menghentam dan membuat kempen membenci Malaysia.

Tak tahulah nak kata apa lagi... tulis dalam Bahasa Kebangsaan pun, gagal. Menulis dalam Bahasa Inggeris, lagilah gagal. Secara terang dan nyata, umat Islam, tak kiralah sama ada Malaysia dan Indonesia memang untuk jualan kalau berada di tangan puak-puak ini.

Anehnya, ada ramai orang yang mengaku beragama Islam, cukup seronok bekerja dengan puak-puak berkenaan. Bahkan ada yang tidak segan silu menyatakan, bekerja dengan puak-puak itu lebih senang, menyeronokkan dan lebih menjamin berbanding bekerja dengan orang Islam.

Sedangkan hakikatnya, mereka tidak lebih daripada kerbau pawah.

Anda tidak percaya? Cuba anda bergaul dengan mereka yang bekerja sebagai pemandu yang berbangsa Melayu dan beragama Islam tetapi bekerja dengan tuan-tuan besar bukan Melayu dan bukan Islam... anda dengar sendiri apa yang mereka akan katakan... dan anda boleh menilai sendiri betapa TIDAK BERMARUAHNYA puak-puak berkenaan walaupun pada masa yang sama, mereka akan mengatakan, itu adalah rezeki halal untuk anak bini mereka!





amukanmelayu - pendatang "MEMBULI" penghuni Nusantara sewenangnya kerana kita telah jauh meninggalkan Al-Quran dan menerima KAFIR ZIMMI lebih dari saudara (sendiri)seugama dan sebangsa................